Translate

Selasa, 22 Juli 2014

Rahasia Keuangan Rohani




1.      Miliki prinsip hidup: Uang adalah berkat Tuhan yang “dipercayakan” pada kita.
Apabila kita menerima berkat dari Tuhan, maka sebenarnya kita tidak berhak atasnya, karena berkat itu hanya titipan/barang kepercayaan dari Tuhan. Kita hanya pengelola berkat itu (Lukas 19:12-26). Dan kita tidak dapat menuntut TUHAN atas apa yang kita kelola. Hanya TUHAN yang berhak memutuskan apa yang dapat kita terima. …………………………………. ……………………………………………………………………………………………………………………………………………  Tanpa Tuhan yang memberi, kita tidak mungkin mempunyai (Amsal 10:22). ……………………….. ……………………………………………………………………………………………………………………………………………… Jadilah orang kepercayaan Tuhan (Amsal 28:20): tidak mengejar harta, hanya “mengejar” kehendak TUHAN. ………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………………………..  
2.      Jalankan gaya hidup:
a.      Kembalikanlah milik-Nya (Persepuluhan). Persepuluhan adalah 10% dari berkat yang diterima dari Tuhan. ………………………………………………………………………………………………………………………………………..
1)      Janji Berkat Tingkap Langit (Maleakhi 3:10). …………………………………………………………………………………………………………………………………..
2)      Jangan Lupakan Keadilan, Belas Kasihan dan Kesetiaan (Matius 23:23). …………………………………………………………………………………………………………………………………..
b.      Taburkan Benih: berkat untuk orang lain (2Korintus 9:10). Dalam setiap berkat yang kita terima, ada “roti” untuk menjadi makanan kita, dan ada “benih” untuk ditaburkan.  ……………………………………………………………………………………………………………………………………….. Supaya selalu ada benih, maka berdasarkan janji iman buatlah % benih yang ditabur, misal: 5 % dari berkat Tuhan; bila  berkat Tuhan Rp. 10.000,-/hari maka benih 5/100 x Rp. 10.000,- = Rp. 500,-/hari. (Rp. 15.000/bln). Semakin besar berkat yang kita terima, semakin banyak kita berbagi dengan sesama. ……………………………………………………………….
c.       Berikan Persembahan: supaya datang kepada Tuhan tidak dengan tangan hampa (Ulangan 16:16).
1)      Persembahan Tubuh: hidup, kudus dan berkenan kepada Allah (Roma 12:1-2) ………………………………………………………………………………………………………………………………….
2)      Persembahan yang “seimbang” dengan berkat yang kita terima. Memaksakan diri untuk memberi persembahan adalah tindakan yang tidak bijaksana. Untuk itu persembahan perlu perencanaan, supaya tidak berhutang untuk memberi persembahan. Oleh karena itu buatlah janji iman % persembahan yang diberikan, misal: 5 % dari berkat Tuhan. ………………………………………………………………………………….

Dengan Prinsip dan Gaya Hidup yang dikelola, maka semua orang dapat berbagi dengan orang lain, sehingga nama Tuhan dipermuliakan. Bila nama Tuhan dipermuliakan, maka Ia hadir untuk memberkati hidup kita. Amin. Selamat mengerjakan Firman Tuhan dan mengalami campur tangan Tuhan Yesus dalam kehidupan.

Senin, 02 Juni 2014

Keesaan Gereja



BAB I
PENDAHULUAN

Gereja merupakan satu kesatuan Tubuh Kristus. Definisi tentang gereja yang sangat ditekankan dalam Perjanjian Baru bukan berhubungan dengan sebuah lembaga, organisasi melainkan berhubungan dengan pribadi-pribadi umat Tuhan yang telah dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang Tuhan yang ajaib. (1 Ptr.2:9; 1 Kor.3:16; 6:19-20; 12:12-20). Keesaan Gereja mendapatkan tempat yang utama dalam hati setiap umat Tuhan. Namun sejarah Gereja mencatat bahwa Gereja (umat Tuhan) mengalami perpechan yang terus berkepanjangan semenjak perpecahan pertama yang terjadi pada tahun 1054 antara Gereja Timur dan Barat.
Perpecahan Gereja pada umumnya tidak dikehendaki oleh para tokoh Gereja, karena hal itu juga tidak sesuai dengan kehendak Allah. Mereka tetap berusaha untuk mempersatukan Gereja dalam suatu lembaga Oikumene. Pada abad XIX dan XX upaya pemersatuan itu semakin menyala-nyala. Namun demikian, dalam perkembangan selanjutnya kegerakan oikumene khususnya di Indonesia mengalami sedikit kegoncangan. Persekutuan Gereja-gereja Indonesia mgnalami perpecahan dengan terbentuknya Persekutuan Gereja-gereja Pantekosta Indonesia dan Persekutuan Gereja-gereja Injili Indonesia, dll.
Apabila kita kembali kepada esensi Gereja, maka keesaan Gereja merupakan suatu pengharapan yang seharusnya terjadi. Tetapi apakah hal tersebut akan benar-benar terjadi? Bagaimanakah pelaksanaan keesaan Gereja saat ini? Hal ini menjadi pertanyaan yang masih dicari jawabannya.








BAB II
DESKRIPSI KEESAAN GEREJA

A.    Pengertian Keesaan
Kata keesaan berasal dari kata esa yang berarti “tunggal;satu”[1] sedangkan kata keesaan berarti “sifat yang satu (tidak dua)”[2] Jadi kata keesaan berarti sifat satu, tunggal, kesatuan dan tidak dapat dipisahkan.
B.     Pengertian Gereja
“Kata Gereja dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Portugis, namun kata asal itu juga diambil dari kata Yunani ‘kuriake’ yang aslinya berarti ‘milik Tuhan’”[3] Sedangkan Abineno mengungkapkan bahwa Gereja adalah “umat Allah, yang dipanggil keluar dari kegelapan kepada terangnya yang ajaib untuk memberitakan perbuatan-perbuatanNya yang besar”[4] Jadi Gereja merupakan suatu umat yang dipanggil keluar dari kegelapan ke dalam terangnya Tuhan dan menjadi umat milik kesayangan Tuhan.
C.     Dasar Alkitabiah Keesaan Gereja
Keesaan Gereja merupakan sesuatu hal yang Alkitabiah. Rasul Paulus mencatat tentang pengertian keesaan yang diwujudkan dalam kata kesatuan (enoteV). Menurut Rasul Paulus, keesaan memiliki dua pengertian yaitu: 1. kesatuan Roh dan 2. keseatuan kepercayaan. Kesatuan Roh merupakan suatu tanggung jawab rohani orang-orang percaya untuk terus menerus dipelihara dalam kehidupan berjemaat, sedangkan kesatuan kepercayaan merupakan suatu sasaran kedepan yang akan dicapai setelah setiap jemaat memelihara kesatuan Roh.
Rasul Paulus pun mengungkapkan bahwa Gereja sebagai satu kesatuan tubuh Kristus. Kristus merupakan kepala Gereja dan Gereja merupakan tubuhNya. “Ajaran yang ditekankan oleh kiasan tubuh Kristus adalah: masyarakat Kristen sebagai satu organisasi atau badan yang di dalamnya semua mereka mempunyai peranan, bersekutu dan wajib mengindahkan serta mampertahankan persekutuan itu”[5] Jadi Gereja diharapkan merupakan satu kesatuan organisme yang tidak dapat terpisah.
Keesaan Gereja juga didasari oleh pandangan bahwa Allah Yang Esa memilih satu umat kesayangan untuk menebus mereka dari dosa. “Jemaat adalah satu umat dan satu Allah, umat kepunyaanNya sendiri (1 Ptr.2:9)”[6] Oleh karena Allah itu satu maka satu pulalah umatNya atau gerejaNya.


BAB III
TERWUJUDNYA KEESAAN GEREJA DALAM PERSPEKTIF THEOLOGIS

A.    Penghalang Keesaan Gereja
Berbagai perpecahan yang terjadi dalam Gereja merupakan penghalang terjadinya keesaan Gereja. Terjaadinya perpecahan atau schisma itu disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:
  1. Kebenaran yang prinsipil
            Gereja bertumbuh dan berkembang dengan mendasarkan pertumbuhan itu sesuai dengan kebenaran yang tertuang dalam Alkitab. Pandangan dan penafsiran secara manusiawi yang dipimpin oleh Roh dapat menghasilkan suatu prinsip kehidupan yang sangat prinsipil dan tidak dapat diganggu gugat. “Para reformator memang mula-mula tidak mau mendirikan Gereja-gereja lain, tetapi hanya membaharui Dereja yang ada, tetapi karena kebenaran yang mereka pertahankan, perpecahan tidak dapat dielakkan”[7]
Kebenaran yang prinsipil pada satu pihak tidak dapat diterima oleh pihak lainnya. Kedua belah pihak mempertahankan kebenaran yang mereka percayai, oleh karena itu terjadilah ketidaksesuaian dalam memahami kebenaran. Dengan demikian perpecahan atau schisma dapat terjadi walaupun itu pada awalnya tidaklah dikehendaki.

  1. Polarisasi dan Pertentangan
            Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam diri kita sebagai manusia memiliki sisi manusiawi yang negative dimana dapat memunculkan suatu polarisasi dan pertentangan. Polarisasi ini dapat disebabkan oleh karena:
2.1.  Mementingkan diri sendiri, mempertahankan prestise sendiri.
2.2.  Tidak menyepakati siapa yang berwenang dalam menentukan keputusan terakhir apabila timbul suatu perselisihan.
2.3.  Ketidakpuasan terhadap Organisasi.
2.4.  Perbedaan bangsa, suku, bahasa, tradisi, kelompok.
Polaarisasi dan pertentangan tidak sesuai dengan kehendak Alah, bahkan dapat mendukakan Roh Allah (Ef. 4:30), dan juga membuat Gereja menjadi mati (Ef.5:14)

B.     Wujud Keesaan Gereja dalam Perspektif Theologis
Apabila kita menilik perkembangan Gereja masa kini, sudah banyak terbentuk berbagai aliran dan denominasi Gereja. Padahal Tuhan Yesus juga pernah menyatakan bahwa Dialah yang akan membangun GerejaNya (Mat.16:18). Tentunya Karya Kristus bukanlah mewujudkan berbagai aliran dalam Agama Kristen. Keberadaan Gereja masa kini adalah karena perspektif manusia dalam memahami kehendak Allah. Oleh karena itu, untuk mewujudkan keesaan Gereja sebagai satu kesatuan umat Tuhan, amatlah sukar bila tidak melihat dari perspektif Theologis.
Kata Perspektif dalam Kamus Inggris-Indonesia berarti “1.perspektiv; 2. pemandangan”[8] Sedang kata Theologis berasal dari kata Theologia yang  secara etimologis merupakan “gabungan dari dua kata Yunani: QeoV (Theos) yang artinya Allah dan logoV  (logos) yang artinya: perkataan, ekspresi rasional, uraian atau buah pikiran.”[9] Jadi kata theologis adalah suatu yang bersifat keAllahan berdasar pada pemikiran yang rasional. Jadi perspektif Theologis berarti suatu pemandangan yang dilihat dari kerangka berfikir tentang keallahan.


Adapun Keesaan Gereja dalam Perspektif Theologis dapat terwujud dalam:
  1. Kesatuan Dalam Kristus.
Berdasarkan suatu pandangan Alkitabiah bahwea Kristuslah yang akan membangun Gerejanya, maka terwujudnya keesaan Gereja adalah berada dalam suatu kerangka kesatuan di dalam Kristus. “Kesatuan dalam Kristus adalah pemberian Allah. Karena itu kesatuan dalam Kriostus didak bisa rusak atau musnah dimana dan bagaimanapun anggota-anggota Gereja berkumpul. Sebab yang menghubungkan (= mempersatukan) Gereja-gereja di berbagai tempat itu bukan pertama-tama organisasinya atau pmpinannya atau tata ibadahnya, tetapi Roh yang satu, Tuhan Yang satu, Bapa yang satu, Harapan yang satu, Iman yng satu dn Babtisan yang satu (Ef.4:3-6)[10]
Prioritaas utama untuk meweujudkan kesatuan Gereja adalah kembali berpijak dari Kristus sebagai kepala dan pendiri Gereja.
Tuhan Yesus memikiki konsep kesatuan Jemaat atau gerejaNya dalam doaNya (Yoh.17:17-13). Kesatuan itu adalah suatu kesatuan yang sama antar Bapa dengan Anak. “Kesatuan ini adalah kesatuan dalam distansi: kesatuan yang menyatakan diriNya dalam ketaatan antara Anak kepada Bapa”[11] Jadi karya Allah sebagai anu\gerahNya bagi keesaan Gereja memiliki beberapa tahap:
1.1.  Firman harus diberitakan
1.2.  Allah menguduskan
1.3.  Allah memberi kemuliaan dan kuasa untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan.

  1. Gerakan Oikumene
Anugerah Allah yang menyatukan harus dibarengi dengan tindakan GerejaNya untuk menanggapi anugerah Allah ini. Satu kesatuan Roh yang disampaikan  Rasul Paulus merupakan suatu tanggungjawab kita untuk memeliharanya., oleh karena itu, berdasarkan pandangan bahwa Allah menghendaki persatuan umatNya, maka para tokoh reformator berusaha menyatukan kembali Gereja-gereja yang terpecah dalam suatu wadah Oikumene.
Oikumene berasal dari kata Yunani yang mengandung arti “dunia yang didiami”[12] (Luk.2:1;Kis.17:6;Mat.24:14)  Gerakan Oikumene dikerjakan sebagai salah satu wujud yang Alkitabiah menuju keesaan Gereja. Gerakan Oikumene ialah gerakan yang bukan saja berusaha untuk menghubungkan (=mempersatukan) kembali gereja-gereja Tuhan yang terpecah-pecah pada waktu itu, tetapi yang juga membantu Gereja-gereja yang terpecah-pecah itu untuk menampakkan kesatuan mereka dalam hidup dan pelayanan mereka agar kesaksian mereka dapat dipercaya orang.”[13] Jadi Okumene menjadi salah satu wadah untuk menyatukan Gereja-gereja.
Meskipun pada kenyataannya terjadi perpecahan dalam tubuh oikumene, gerakan oikumene tetap relevan bagi perwujudan keesaan Gereja, dengan memperhatikan apa yang menjadi factor penghambat nya. Oleh karena itu dalam Lima Dokumen Keesaan Gereja dibuat suatu kesepakatan bersama untuk mewujudkan kesatuan Gereja. Beberapa pendekatan yang digunakan untuk maksud persatuan itu, antara lain:
2.1.  Identitas masing-masing Gereja tetap dihormati
2.2.  Sejarah masing-masing Gereja tetap dihormati
2.3.  Tugas panggilan masing-masing Gereja tetap dihormati
2.4. Kewenangan untuk mengatur kehidupan masing-masing Gereja tetap dihormati.
2.5. Pengembangan theologi, daya dan dana dalam rangka tugas panggilan masing-masing gereja tetap dihormati.



BAB IV
PENUTUP

  1. Kesimpulan
Keesaan Gereja merupakan suatu pengharapan yang dapat saja terjadi. Tuhan Yesus pun berdoa untuk terciptanya suatu kesatuan umatNya. Keesaan GerejaNya terwujud dalam beberapa hal:
1.      Kesatuan dapat terjadi di dalam Kristus, yaitu ketika orang-orang percaya hidup dalam ketaatan dengan Allah melalui pelaksanaan Firman Tuhan, dan juga melalui kehidupan yang meneladani Kristus
2.      Keesaan Gereja harus diwujudkan secara bersama oleh umat Tuhan, yang bersatu bukan atas dasar keseragaman dalam lembaga, organisasi, ataupun liturgy, melainkan dalam kesatuan pelayanan untuk mempermuliakan nama Tuhan, menjangkau jiwa bagi kemuliaanNya

  1. Saran-saran
Kesatuan Gereja harus diwujudkan dengan kerjasama yang baik antara berbagai pihak dalam tubuh Kristus. Walaupun banyak perbedaan di dalamnya, biarlah perbedaan itu menjadi suatu hal yang mempersatukan. Demikian pula para pemimpin Gereja harus memiliki kerinduan yang sama untuk bersatu dalam Kristus, yakni penyerahan total akan kehendak Allah dalam hidup dan pelayanannya.









Kepustakaan


Martin B. Dainton, Gereja Milik Siapa?, Jakarta:YKBVK/OMF,1994.

John Echols dan Hassan Shadly, Kamus Inggris-Indonesia, Jakarta:PT. Gramedia,2000

Johanes Budi Supeno, Diktat Pembimbing Theologia Sistematika, Salatiga:STT Salatiga, 2006,

J.L. Ch. Abineno, Oikumene dan Gerakan Oikumene, Jakarta:BPK Gunung Mulia,1984.

J.L. Ch. Abineno, Garis-garis Besar Hukum Gereja, Jakarta:BPK Gunung Mulia,1995.

W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta:Balai Pustaka,2002.

Lima Dokumen Keesaan Gereja


[1] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta:Balai Pustaka,2002,hlm.278
[2] Ibid,
[3] Martin B. Dainton, Gereja Milik Siapa?, Jakarta:YKBVK/OMF,1994,hlm. 10.
[4] J.L. Ch. Abineno, Garis-garis Besar Hukum Gereja, Jakarta:BPK Gunung Mulia,1995.hlm.2.
[5] Martin B. Dainton, Op.cit., hlm.71.
[6] Ibid., hlm.73.
[7] J.L. Ch. Abineno, Oikumene dan Gerakan Oikumene, Jakarta:BPK Gunung Mulia,1984,hlm.11.
[8] John Echols dan Hassan Shadly, Kamus Inggris-Indonesia, Jakarta:PT. Gramedia,2000,hlm.426.
[9] Johanes Budi Supeno, Diktat Pembimbing Theologia Sistematika, Salatiga:STT Salatiga, 2006, hlm 1.
[10] J.L. Ch. Abineno,Op.cit., hlm.13.
[11] Ibid, hlm 17.
[12]Ibid, hlm.7.
[13] Ibid.,hlm.10.

Jumat, 21 Desember 2012

Maranatha



Kerajaan Allah Sudah Dekat
Nats: Matius 4:17


Salam sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus. Kiranya Damai sejahtera dari Allah senantiasa memenuhi kehidupan kita.

Saudara-saudaraku yang dikasihi Tuhan, ketika kita menengok kembali ke belakang dalam perjalanan bangsa Israel dan pada masa Tuhan Yesus melayani di dunia ini, Kerajaan Allah merupakan suatu “tema sentral” yang sedang dinantikan oleh bangsa itu. Ini dapat dilihat ketika banyak orang yang berbondong-bondong datang kepada Yohanes Pembabtis yang menyerukan tentang kedatangan Kerajaan Allah. Hal ini pun merupakan suatu isi pemberitaan Injil Yesus Kristus, dimana dalam awal pelayananNya, Ia sendiri menyampaikan “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat”.
Pada hari ini kita akan belajar tentang apa maksud Kerajaan Sorga pada masa itu dan bagaimana relevansinya dengan kehidupan “Kristen” (pengikut Kristus) pada masa kini.  

Marilah kita membuka nats kita saat ini, dalam Matius 4:17.
Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”

Ayat ini merupakan seruan dari Tuhan Yesus sendiri untuk pertama kali dalam pelayanan yang baru mulai Ia kerjakan di usia 30 tahun. Pemberitaan Injil-Nya yang pertama ini disampaikan di sebuah kota yang bernama Kapernaum di wilayah Propinsi Galilea. Pada saat itu setelah Tuhan Yesus mendengar tentang penangkapan Yohanes Pembabtis, Ia menyingkir ke daerah Galilea tersebut. Hal ini bukanlah suatu kebetulan melainkan suatu penggenapan dari nubuatan nabi Yesaya yang mengatakan bahwa:
“Tetapi tidak selamanya akan ada kesuraman untuk negeri yang terimpit itu. Kalau dahulu TUHAN merendahkan tanah Zebulon dan tanah Naftali, maka dikemudian hari Ia akan memuliakan jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, wilayah bangsa-bangsa lain. Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” (Yesaya 8:23-9:1)

Ini menunjukkan bahwa pemberitaan Kerajaan Allah bukanlah bersifat individual atau sekelompok golongan tertentu, melainkan bersifat universal. Pelayanan Tuhan Yesus yang juga menjangkau bangsa-bangsa lain-yang nota bene bukanlah merupakan umat “pilihan Allah”-membawa suatu titik terang bahwa kasih Allah tak terbatas, dan menjangkau seluruh umat manusia.

Beberapa penulis Injil menggunakan istilah yang berbeda untuk menunjuk pada Kerajaan Allah. Matius lebih memilih untuk menggunakan istilah Kerajaan Sorga, sedangkan Markus lebih memilih untuk menggunakan istilah Kerajaan Allah. Beberapa penafsir memiliki pendapat bahwa perbedaan ini mengakibatkan juga adanya perbedaan arti dari istilah-istilah tersebut. Ini menjadi suatu kontroversi tersendiri. Oleh karena itu kita harus mengerti tentang hal ini secara benar untuk kita dapat mengerti apa maksud Kerajaan Allah pada masa itu dan bagaimana relevansinya bagi kehidupan Kristen masa kini.
Pengertian yang sederhana yang dapat kita lihat tentang Kerajaan Allah / Kerajaan Sorga terdapat dalam Kamus Alkitab yang dapat kita lihat (di belakang Alkitab sebelum peta Alkitab). Tim penterjemah LAI memberikan pengertian  bahwa “Khususnya dalam Injil Matius terdapat “Kerajaan Sorga” yang searti dengan “Kerajaan Allah”. Jadi secara sederhana dapat kita simpulkan bahwa penulisan istilah “Kerajaan Sorga” memiliki arti yang sama dengan istilah “Kerajaan Allah”. Apa yang menjadi dasar penulisan istilah yang berbeda ini?
Dalam Injil, kedua istilah ini digunakan pada saat yang sama yaitu pada awal pelayanan Tuhan Yesus. Yakni setelah peristiwa penangkapan Yohanes Pembabtis, Tuhan Yesus menyingkirkan diri ke daerah Galilea dan memberitakan tentang kedatangan Kerajaan Allah itu.
Tetapi waktu Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. (Matius 4:12)

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah. (Markus 1:14)

Pdt. Samuel Tandiassa,MA. dalam bukunya yang berjudul “Theologia Perjanjian Baru-Misteri Kerajaan Allah” mengungkapkan bahwa
“Kedua penulis ini melaporkan peristiwa yang terjadi di suatu tempat dan berita dari sumber yang sama yaitu Yesus, akan tetapi mereka memakai istilah yang berbeda. Dengan demikian kita dapat berasumsi bahwa walaupun kedua penulis ini menggunakan istilah yang berbeda, akan tetapi makna yang dimaksud, baik oleh sumber berita atau pelaku peristiwa itu – dalam hal ini adalah Yesus – maupun oleh kedua penulis berita itu, pada prinsipnya mengandung makna dan tujuan yang sama.”

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa dalam peristiwa yang sama dan sumber yang sama, maka kedua istilah itu memiliki pengertian yang sama pula.
Alasan lain yang memberikan penjelasan “Apa dasar perbedaan pemakaian istilah itu?” yaitu karena perbedaan alamat atau tujuan penulisan Injil. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini mengungkapkan bahwa “Injil Matius pada mulanya dipakai di jemaat Kristen Yahudi berbahasa Yunani” dan juga menulis bahwa “Ada ahli yang menyimpulkan bahwa Injil ini (Markus) ditujukan kepada orang Roma, … , atau ditujukan kepada bangsa-bangsa non-Israel”. Perbedaan tujuan inilah yang menjadi dasar perbedaan pemakaian istilah tersebut.
Bangsa Yahudi sangat menghargai pemakaian kata TUHAN dibandingkan orang non Yahudi, sehingga mereka lebih memilih untuk mengganti kata TUHAN atau Allah dengan kata lain yang mendekati. Kata TUHAN atau ALLAH merupakan sebutan yang sangat sacral sehingga tidak boleh dengan sembarangan diucapkan atau dituliskan. Jadi kata Allah dalam Kerajaan Allah (yang disebut oleh Markus) dibahasakan dengan Sorga (oleh Matius) yang adalah tempat kediaman Allah itu sendiri. Pdt. Samuel Tandiassa, MA. dalam bukunya yang berjudul “Theologi Perjanjian Baru-Misteri Kerajaan Allah” mengungkapkan bahwa
“Bagi orang Yahudi, menyebut nama Allah secara langsung merupakan sesuatu yang tidak pantas. Oleh karena itu Matius harus memilih kata Surga untuk menggantikan kata Allah, … sementara Markus, Lukas termasuk Paulus yang mengalamatkan tulisannya kepada orang-orang Kristen dari golongan non Yahudi, merasa tidak ada masalah untuk menyebut nama Allah secara langsung, karena memang tidak ada larangan di dalam tradisi cultural agama masyarakat ini untuk menyebut nama Allah secara langsung.”.

Jadi perbedaan kedua kata itu tidak akan merubah makna yang ada dari tujuan pemberitaan kedatangan Kerajaan Allah pada masa itu.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, sebelum kita melangkah lebih lanjut dalam memahami apa maksud pemberitaan Kerajaan Allah oleh Tuhan Yesus, perlu kita mengerti terlebih dahulu tentang definisi atau pengertian secara ringkas mengenai Kerajaan Allah/Kerajaan Sorga.
Kamus Alkitab, LAI secara sederhana mendefinisikan Kerajaan Allah sebagai “Pemerintahan Allah sebagai Raja yang hendak dilaksanakan di sorga maupun di bumi. Dengan kedatangan Yesus Kristus Kerajaan Allah sudah dekat (Mat.4:17), bahkan berada “di antara kamu” (Luk 17:21).” Jadi Kerajaan Sorga merupakan suatu pengharapan akan datangnya suatu pemerintahan Allah yang lebih baik dari pada pemerintahan yang ada yaitu yang terjadi di surga maupun yang akan dinyatakan di bumi menurut “versi Allah”. Hal inilah yang akan kita pelajari lebih jauh dalam pemahaman Alkitab kita kali ini.
Dalam Alkitab Bahasa Yunani, kata Kerajaan Sorga dalam Matius 4:17 dituliskan dengan e basileia ton ouranon, sedangkan kata Kerajaan Allah dalam Markus 1:15 dituliskan dengan e basileia tou Theou. Kamus Yunani (Analitical Greek Lexicon) mengartikan istilah tersebut sebagai “Pemerintahan / Kerajaan Mesias. Kedua istilah tersebut digunakan dalam batasan secara historis aplikasinya seperti dalam perumpamaan yang diungkapkan oleh Tuhan Yesus;  dalam batasan sifat dasarnya (Roma 14:17); dan dalam keperluannya, perwujudannya.”
Jadi Kerajaan Allah memiliki pengertian Pemerintahan Allah sebagai Mesias yang diwujudkan baik di bumi maupun di Sorga.

Jadi Apa maksud pemberitaan Kerajaan Allah oleh Tuhan Yesus? Apakah itu merupakan datangnya pemerintahan dalam suatu daerah? Pemerintahan yang bagaimanakah yang akan diwujudkan oleh Allah baik yang disorga maupun yang dibumi? Untuk kita dapat memahami apa maksud pemberitaan Kerajaan Allah oleh Tuhan Yesus dan bagaimana relevansinya bagi kehidupan Kristen pada masa kini, baiklah kita memahaminya dari beberapa istilah yang berkaitan dengan Kerajaan Sorga dalam Injil, antara lain:
  1. Mesias
  2. Bertobatlah
  3. Percayalah Kepada Injil
  4. Waktunya Telah Genap
  5. Sudah Dekat.

Kerajaan Allah merupakan pemerintahan Allah sebagai Mesias yang diwujudkan baik di Sorga maupun di bumi. Kerajaan Allah sangat berhubungan dengan pengharapan akan datangnya Mesias sebagai “yang diurapi” untuk menyelamatkan bangsa Israel. Dalam zaman kehidupan Tuhan Yesus, Bangsa Israel berada dalam penjajahan Romawi. Beberapa orang termasuk golongan orang zelot menantikan penggenapan janji datangnya Mesias sebagai Raja yang akan menyelamatkan bangsa Israel dari penjajahan tersebut. Ketika Yohanes Pembabtis memberitakan tentang Kerajaan Allah, orang banyak banyak yang mengharapkan bahwa ia adalah Mesias.
“Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias,” (Luk.3:15)

Namun Yohanes memberitahukan bahwa ia bukanlah Mesias, dan menunjuk kepada kedatangan sang Mesias itu.
Saat orang banyak melihat pelayanan yang Tuhan Yesus kerjakan: yang buta melihat, yang lumpuh berjalan, orang-orang sakit yang dibawa kepada Tuhan Yesus disembuhkan, berbagai mujizat yang Tuhan Yesus kerjakan termasuk memberi makan lima ribu orang; mereka terkagum-kagum dan meyakini bahwa Yesuslah Mesias yang mereka nanti-nantikan. Akhirnya mereka berbondong-bondong hendak menjadikan Yesus raja atas mereka. Yohanes mencatat demikian:
Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakanNya, mereka berkata: “Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia.” Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri. (Yohanes 6:14-15)

Namun Tuhan Yesus secara tidak langsung menolak keinginan mereka. Tuhan Yesus tahu bahwa keinginan yang orang banyak akan lakukan tidak sesuai dengan kehendak Bapa, oleh karena itu Ia menyingkirkan diri ke gunung. Pandangan orang Israel tentang pengharapan Mesias hanya mengenai keadaan secara fisik yaitu pembebasan kesuraman bangsa dari penjajahan Romawi. Sejak semula Allah melihat bahwa bangsa itu merupakan bangsa yang tegar tengkuk dan melawan Tuhan, sehingga Tuhan sendiri menyampaikan janjiNya untuk mengadakan pembaharuan dalam hidup umatNya dengan pengharapan Mesianik yang akan membawa pembebasan dari hidup yang diperbudak atau dijajah oleh hukum dosa. Allah lebih menghendaki keselamatan jiwa mereka untuk membawa umatNya ke dalam hubungan yang kembali terjalin antara Allah dengan umatNya.
Kejadian 3:15 mencatat tentang janji Allah akan datangNya Mesias yang akan meremukkan kepala “ular” yaitu Satan (Si ular tua yang mengakibatkan manusia jatuh ke dalam dosa). Yesaya mencatat tentang kedatangan sang Mesias dengan istilah Hamba “Yahweh”; ciri-ciri kedatanganNya adalah hidup di antara manusia, Ia akan menderita dan mati dan kematianNya bersifat menggantikan, oleh kehendak “Yahweh” Ia akan mendapatkan kemuliaan sesudah penderitaanNya. (Yesaya 48-55). Daniel 7:1-28 menggambarkan Mesias sebagai Anak Manusia yang diberi kekuasaan meliputi seluruh dunia dan yang kekal selama-lamanya setelah Yang Lanjut Usianya melenyapkan semua kekuasaan duniawi yang bersifat bermusuhan.
Dari beberapa hal tersebut dapat kita lihat bahwa kedatangan Kerajaan Allah pada masa itu bukan berupa pemerintahan secara fisik, melainkan suatu pemerintahan Mesias secara rohani yang telah mengalahkan maut sebagai penjajah umat manusia. Dengan demikian Allah kembali dalam rencanaNya semula  untuk mendirikan kerajaanNya atas umat manusia yang akan digenapi saat penghakiman terakhir dimana sang Mesias telah mengalami penderitaan dan memperoleh kemuliaan.

Kata “bertobatlah” yang ditulis dalam Matius 4:17 merupakan seruan Tuhan Yesus menjelang datangnya Kerajaan Allah itu. Kata bertobat (: metanoeite = metanoeite) memiliki pengertian:
  1. mengalami perubahan dalam bingkai pikiran dan perasaan (menyesal)
  2. membuat perubahan dalam prinsip dan tindakan (pembaruan hidup).
Kata ini dalam tata bahasanya merupakan suatu kata perintah yang harus dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang kali. Dengan demikian ada suatu kerja keras dari hidup kita untuk mendisiplinkan hidup ini dalam mengalami perubahan hidup, jiwa secara sepenuhnya tanpa batasan waktu. Jangan berkata “cukup, saya sudah bertobat”, melainkan “Tuhan aku ma uterus menerus bertobat”.
Jadi Kerajaan Allah akan dirasakan oleh orang-orang yang mengalami pertobatan baik dalam pikiran, perasaan dan kehendak. Kerajaan Allah tidak akan dirasakan oleh semua orang, melainkan orang-orang tertentu yang mengalami perubahan tersebut secara terus menerus. Kerajaan Allah berbicara mengenai kehidupan bersama dengan Allah yang memakai standart Allah. Oleh karena itu pertobatan tersebut didasari oleh karya Allah sendiri di dalam Tuhan Yesus Kristus yang memberitakan Injil (kabar baik) serta merupakan kabar baik itu sendiri.

Dalam Markus 1:15, Kerajaan Allah berkaitan dengan “percayalah kepada Injil”. Dalam Alkitab bahasa Yunani “percayalah kepada” (: pisteuete en) memiliki pengertian memberikan pujian/penghargaan kepada, memiliki dorongan/kepercayaan mental kepada. Sedangkan kata Injil (: euangelio) memiliki pengertian: kabar kesukaan, berita baik/gembira; doktrin-doktrin dari Injil; khotbah/perintah (instruksi) Injil.
Ungkapan percayalah kepada Injil dilihat dari kasus bahasanya merupakan suatu perintah yang harus dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang. Hal ini masih berkaitan dengan perintah pertama yakni “bertobatlah”, jadi merupakan suatu rentetan kehidupan yang harus terjadi dalam kehidupan orang yang rindu menyongsong datangnya Kerajaan Allah. Tuhan Yesus menyampaikan suatu perintah yang tidak bisa ditawar bila kita rindu menantikan kedatangan Kerajaan Allah dalam hidup kita yakni setelah menanggalkan kehidupan lama, kita diharuskan menyatakan suatu kepercayaan kita kepada kabar kesukaan yang Ia bawa. Ketika Ia berada di bait Allah membacakan kitab Yesya, Ia sedang memproklamirkan bahwa tugasNya sudah digenapi untuk memberitakan Injil.
“Roh Tuhan ada padaku oleh sebab Ia elah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutusAku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas , untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Lukas 4:18-19)

 Pdt. Samuel Tandiassa, MA dalam bukunya “Theologi Perjanjian Baru-Misteri Kerajaan Allah mengungkapkan bahwa Injil yang dimaksud ini adalah “proklamasi tentang datangnya suatu masa baru, yaitu suatu masa keselamatan besar”. Dalam hal ini masa tersebut adalah suatu kemerdekaan spiritual.

Markus 1:15 mencatat tentang “waktunya telah genap”, bahwa sudah saatnya hal Kerajaan Allah itu datang. Dlam Alkitab bahasa Yunani ungkapan “waktunya telah genap”  berarti suatu waktu yang ditetapkan dan sudah mencapai pemenuhannya saat itu.  Jadi masa itu merupakan suatu kegenapan dari nubuatan masa lalu yang tertulis dalam kitab Yesaya yang mengatakan bahwa Terang Tuhan telah terbit atas daerah yang berada dalam kegelapan. Suatu masa Anugerah yang besar telah terjadi atas bangsa-bangsa yang berada dalam kegelapan dan bangsa-bangsa lainpun turut merasakannya.
“Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut daerang di seberang sungai Yordan, Galilea, Wilayah bangsa-bangsa lain,-bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit terang.” (Matius 4:15-16)

Ini adalah suatu Anugerah secara rohani yang membawa pembebasan dari maut, kegelapan dan belenggu dosa/kutuk dengan datangnya Terang Tuhan yaitu Pemerintahan Allah yang diproklamirkan dalam diri Yesus.

Satu ungkapan yang masih berkaitan dengan Kerajaan Allah ialah frasa “sudah dekat” ( engiken) yang berarti yang akan dating atau dalam suatu metafora: sudah berada dalam genggaman tangan. Secara tata bahasa frasa tersebut merupakan suatu keadaan yang terjadi sekarang sebagai akibat dari sesuatu yang telah dilakukan sebelumnya dan hasilnya telah ada sekarang. Hal ini dapat dihubungkan dengan ungkapan “waktunya sudah genap” yaitu pada masa dahulu ada suatu waktu yang ditentukan dan harus terjadi pada masa itu dalam kehendak Allah. Jadi kedatangan Kerajaan Allah adalah suatu masa yang sudah direncanakan oleh Allah sebelumnya harus terjadi pada masa itu. Tuhan Yesus sedang memproklamirkan suatu kedatangan pemerintahan Allah yang akan melakukan pekerjaan yang luar biasa/belum pernah terjadi sebelumnya melalui mujizat, membawa suatu berita sukacita dan akan menang melawan kuasa dosa, maut.

Saudara-saudaraku yang dikasihi Tuhan, dari beberapa penjelasan mengenai Kerajaan Allah di atas kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa melalui pelayanan Tuhan Yesus di dunia ini, Kerajaan Allah yang berupa pemerintahan Allah sebagai Mesias sang Juruselamat dinyatakan pada masa itu. Hal tersebut merupakan awal Kerajaan Allah dinyatakan bagi umat manusia dan dapat dirasakan berdasarkan Anugerah Allah yang sangat besar. Kita patut bersyukur bahwa ketika kita berbalik dari segenap dosa-dosa kita dan percaya kepada Injil Tuhan Yesus Kristus yaitu keselamatan yang Ia kerjakan di Kayu Salib dimana Ia telah menang atas kuasa dosa dan maut, maka kita akan dilayakkan untuk menjadi warga kerajaan Allah.

“Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya” (Yohanes 1:12).

Kedatangan Kerajaan Allah itu akan digenapi saat penghakiman terakhir dimulai yaitu saat Tuhan Yesus berada di tahtaNya untuk mengadili bangsa-bangsa, kita memiliki hak yang diberikan oleh Allah berdasaran anugerahNya yang melimpah  untuk bersama-sama dengan Dia di dalam kerajaan Sorga mulia.
Bagaimana dengan kehidupan kita orang-orang yang telah menyatakan kepercayaan kepada Tuhan Yesus? Bertobatlah setiap waktu terus menerus dan berulang kali dalam seluruh keberadaan hidup kita baik dalam pikiran, perasaan maupun kehendak kita. Dan percayalah kepada Injil Tuhan Yesus Kristus yang membawa keselamatan secara rohani, niscaya kita akan siap menyongsong kedatangan Mempelai laki-laki dan tidak akan ditinggalkan. Sediakan minyak supaya pelitamu tidak padam menyongsong kedqatangan Tuhan Yesus yang ke dua kali.
Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya. (Matius 25:13)


MARANATHA, Datanglah Tuhan Yesus.

AMIN.